Memaknai Istilah “Woman Supporting Woman”

*Foto diambil sebelum pemberlakuan PPKM oleh pemerintah setempat

Gerakan Woman Supporting Woman sempat viral di dunia maya beberapa bulan lalu. Tepatnya bulan Juli 2020. Ratusan bahkan ribuan perempuan di dunia saling memberikan tantangan (challenge) untuk memposting foto monokrom diri sendiri dengan menyertakan #ChallengeAccepted dan #WomanSupportingWoman. Hastag tersebut sempat ramai di media sosial instagram dan dilakukan oleh ribuan perempuan di dunia dari berbagai kalangan, para pelajar, artis, musisi dan ibu rumah tangga. Lewat postingan foto monokrom, tak sedikit yang saling memberikan kata-kata terimakasih, motivasi dan dukungan positif kepada sesama perempuan baik itu sahabat, ibu, guru atau pun kerabat lainnya. Lalu seperti apa pemaknaan yang tepat untuk istilah woman supporting woman saat ini?

Dilansir dari mojok.co, woman supporting woman merupakan sebuah istilah yang ditujukan untuk memantik kesadaran bahwa perempuan sebagai kelompok rentan mesti saling mendukung kelompok rentan lainnya. Kesadaran ini memiliki kepercayaan, bahwa pengalaman tubuh dan pengalaman sosial perempuan lebih mudah dipahami oleh sesama perempuan. Perempuan mengalami menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui, pengalaman-pengalaman ini hanya bisa dirasakan sesama perempuan. Perempuan mengalami tidak enaknya dikomentari tentang badan gemuk, pipi jerawatan, ditanya kapan nikah, kapan hamil, dicap nakal karena pulang malam dan dicap penggoda laki-laki karena status lajang atau janda.

Seperti yang kita perhatikan, perempuan saat ini lebih banyak yang menjatuhkan perempuan lain lewat komentar dan tuduhan lisan. Membanding-bandingkan kecantikan wajah, lekuk tubuh, warna kulit dan bentuk rambut. Perkara membandingkan bentuk fisik seperti itu yang biasa kita sebut body shaming. Tidak hanya body shaming, terkadang perempuan menilai kemampuan perempuan lainnya hanya dari segi penampilan dan sulit untuk berbagi karena tak ingin merasa tersaingi.

Dampak dari body shaming dan tuduhan buruk kepada perempuan sangat berbahaya lho, mulai dari sakit hati, insecure, depresi, bahkan bisa sampai tindakan kriminal dan bunuh diri. Mungkin sebagian orang menganggap reaksi seperti itu lebay dan terlalu berlebihan, tetapi sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kondisi psikis seseorang, suasana hatinya, dan kondisi sosial ekonominya.

Oleh karena itu, sebagai sesama perempuan sepatutnya kita dapat saling menghargai satu sama lain. Mengaplikasikan slogan “woman supporting woman” dalam kehidupan nyata. Bisa kita mulai dari hal-hal yang kecil, seperti memberi ucapan selamat atas suatu pencapaian, tidak pelit berbagi resep perawatan wajah atau resep memasak dan memberi solusi diet terbaik, bukan malah menuduh rakus dan tidak bisa jaga diri. Sebagai perempuan kita harus mampu mensyukuri semua yang kita miliki, tampil kreatif dan berani, saling menyamakan solidaritas dan pemberdayaan yang positif, menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Seperti sebuah kutipan menarik dalam postingan instagram Najwa Shihab, “Karena perempuan kuat itu yang menguatkan perempuan lain.”

Selamat hari perempuan sedunia! Untuk seluruh perempuan tangguh nan hebat!

Leave a Reply

Your email address will not be published.